17 Oktober 2009

Sholawat Global, Islam, Yahudi dan Nasrani

Oleh: A. Ahmad Hizbullah MAG
Apa jadinya jika urusan ibadah dan akidah dioplos dengan kemusyrikan, kekafiran dan komoditi seni? Lihat saja “Shalawat Global” made in Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), budayawan Jombang Jawa Timur. Shalawat ini mencuat setelah video pementasannya di depan jamaah Pengajian Tombo Ati disebarluaskan di internet. Tampak dalam video Shalawat Global, Cak Nun dan anak buahnya berseragam putih-putih, para penyanyi pria mengenakan peci putih sedangkan wanitanya memakai jilbab putih.
Dengan wajah-wajah sumringah penuh semangat, mereka melantunkan beberapa lagu gereja yang sangat populer dengan aransemen khas gamelan Jawa. Lirik lagu-lagu gereja tersebut diubah, diarabkan dan diisi dengan shalawat nabi yang begitu populer di kalangan Nahdiyin. Dua lagu populer gereja yang dicomot Cak Nun adalah “Hevenu Shalom Aleikhem” dan lagu Natal “Joy to the World.”
Lagu “Hevenu Shalom Aleikhem” ciptaan Goldfarb, seorang Rabi Amerika Israel pada bulan Mei 1918 ini sangat populer di kalangan orang Israel maupun umat kristiani.

Sedemikian masyhurnya melodi ini di berbagai belahan dunia, sampai-sampai ada yang menganggap bahwa lagu ini adalah warisan Nabi Musa di Gunung Sinai. Bagi orang Yahudi, Shalom Aleikhem adalah lagu adat dinyanyikan pada malam Sabtu (Sabbath Yahudi) dengan sangat gembira dan penuh suka cita.

Lirik lagu ini adalah sbb: “Havenu shalom, shalom aleikhem, shalom, shalom aleikhem. Havenu shalom, shalom aleikhem, shalom, shalom aleikhem. Shalom, shalom aleikhem. Ku bawa b'rita sejahtera, damai, damai t'lah datang. Ku bawa b'rita sejahtera, damai, damai bagimu. Damai, damai bagiku.”

Oleh Cak Nun, lagu Israel ini diplagiat menjadi unsur Shalawat Global dengan mengarabkan liriknya menjadi: “Alaika salam alaikum. Alaika salam alaikum. Alaika salam, salam, salam alaikum...”

Sedangkan “Joy to the World” ciptaan Issac Watts (Inggris) tahun 1719 adalah lagu Natal yang sangat populer bagi umat Kristen, karena setiap perayaan Natal lagu ini dikumandangkan, bersama lagu natal yang lain: Malam Kudus (Silent Night), Gita Surga Bergema (Hark, The Herald Angels Sing), Jingle Bells, White Christmas, dll.

Nas kitab Mazmur 98 dipakai sebagai lirik lagu ini karena diyakini menubuatkan kedatangan Yesus Kristus (sang Mesias) dan penggenapan Perjanjian Baru, bahwa Yesus lahir untuk mati di atas kayu salib menggantikan/menebus orang berdosa. Pujian dalam lagu ini menyatakan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan yang disambut dengan penuh suka cita.

Dalam pandangan Islam, doktrin penebusan dosa oleh darah Yesus di tiang salib adalah akidah yang batil karena dua alasan utama: (1) Allah SWT menekan¬kan adanya tanggung jawab individu manusia atas segala perbuatannya masing-masing sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an: An-Najm 38-39, Al-An’am 164, Al-Isra’ 15, Al-Baqarah 123, 286, Luqman 33, Yasin 54, At-Thur 21 dll. (2) Doktrin kematian Yesus di tiang salib juga tertolak karena beliau tidak mati disalib (An-Nisa’ 157).

Oleh Cak Nun, lagu Natal yang beraroma kemusyrikan karena meniupkan doktrin Kristen ini diplagiat dalam album “Shalawat Global” dengan mengganti liriknya menjadi shalawat nabi SAW sbb: “Ya Nabi salam alaik, ya Rosul salam alaik, ya Habib salam alaik, sholawatulloh alaik... Rosulillah, sholawatulloh alaik. Rosulillah sholawatulloh alaik.”

elompok Kiai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Nadjib mengajak tiga biarawati dari Gereja Albertus Agung Jetis, Yogyakarta, bernyanyi pada peluncuran Paguyuban Huriya Maisya di Cokrodiningratan
Kalau dicermati, memang sejak sering blakrakan ke gereja di berbagai kota di Indonesia bahkan sampai ke Belanda, Italia dan Jerman, Cak Nun sangat ahli mengawinkan shalawat Nabi dengan lagu-lagu yang beraroma kemusyrikan. Dan Shalawat Global bukanlah hasil karya Cak Nun satu-satunya. Jauh sebelumnya, Sabtu malam setelah shalat tarawih (14/10/2006), dalam acara bertajuk “Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku” di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, Cak Nun dan gamelan Kiai Kanjeng melantunkan Shalawat Malam Kudus. Shalawat ini adalah hasil perpaduan (medley) antara lagu natal Malam Kudus (Silent Nigt) dengan Shalawat: “Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.”

Setahun berikutnya Cak Nun mendukung ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran Yogyakarta (8/8/2007) dengan tampil sebagai pembicara dalam dialog bertema “Membangun Habitus Kebangsaan Baru.” Di akhir acara, Cak Nun menghadiahkan lagu penutup berjudul “Hubbu Ahmadin” yang diaransemen dengan irama orkestratif gerejawi. Lagu ini dinyanyikan secara bergantian oleh Kiai Kanjeng dan tim paduan yang terdiri dari para biarawati. (Koran Seputar Indonesia, 31 Agustus 2007).

Jadi, Shalawat Global adalah lagu-lagu (Kidung Jemaat) Natal yang liriknya diganti dengan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Dengan kata lain, Shalawat Global yang di“sunnah”kan Cak Nun adalah lagu dengan irama gamelan hasil kawin-silang antara lagu Natal Yesus Kristus dengan shalawat Nabi Muhammad SAW. Maka, kalau mau jujur, lagu-lagu Cak Nun itu tidak pantas dijuluki “Shalawat Global.” Judul yang paling tepat adalah “Kidung Jemaat Gamelan Krislam,” yaitu perpaduan lagu rohani Kristen dan Islam.
Shalawat Global versus Wasiat Nabi SAW.

Shalawat Nabi adalah ibadah yang disyariatkan Allah dalam surat Al-Ahzab 56, yang lafalnya telah ditentukan Rasulullah dalam berbagai hadits shahih ada 10 macam. Shalawat yang terpendek adalah “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.” Lantas, bagaimana keabsahan Shalawat Global hasil kreasi Cak Nun yang meracik sendiri shalawat gaya baru dengan melodi lagu-lagu Natal yang mengusung doktrin ketuhanan Yesus dan penebusan dosa?

Dalam pandangan Al-Qur’an, salah satu perbuatan yang diharamkan Allah adalah mencampuradukkan haq dan batil. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” (Qs Al-Baqarah 42).

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip ucapan Qatadah: “Janganlah kamu campuradukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan dinul Islam. Karena sesungguhnya din yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam, sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah yang bukan berasal dari Allah.”

Dengan kaidah tersebut, maka mengoplos lagu Natal gerejawi dengan shalawat Nabi sama sekali tidak dibenarkan karena termasuk mencampuradukkan tauhid (Islam) dengan kemusyrikan agama kafir.

Lantas bagaimana jika Shalawat Global itu ditujukan untuk mengekspresikan kecintaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW?

Perlu diingat bahwa apa yang dianggap baik itu tidak otomatis menjadi sebuah kebaikan. Dalam urusan agama, niat baik saja belum cukup, karena niat yang baik harus diiringi dengan perbuatan baik sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula dalam memuji dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, harus sesuai dengan aturan Nabi SAW, salah satunya adalah sabdanya berikut:
“Dari Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung aku seperti kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya” (HR Bukhari, Ahmad dan Ad-Darimi).

Secara tegas dan jelas, Rasulullah melarang penyanjungan (pujian, shalawat, dll) yang meniru-niru tradisi orang Kristen. Maka bershalawat kepada nabi dengan cara yang meniru-niru (tasyabibuh) kepada tradisi orang Kafir adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan secara agama. Bukankah meniru-niru tradisi orang kafir itu juga perbuatan yang dilarang keras oleh Allah dan rasul-Nya?

“...Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya...” (Al-Hadid 16). “Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan mereka” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Tepatlah fatwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab “Masa’il Jahiliyah” merinci 128 perilaku dan akhlak kaum Jahiliyah yang menyelisihi Rasulullah SAW, salah satu di antaranya adalah karakter tanaqudh (kontradiktif) antara klaim dan perbuatan. Penisbatkan orang jahiliyah kepada para nabi selalu dibarengi dengan penyelisihan kepada para nabi tersebut.

Sebagian orang awam terheran-heran dengan sensasi dan kontroversi Shalawat Global rakitan Cak Nun itu.. Sementara bagi umat Islam yang berpendidikan, sepak terjang Cak Nun itu sudah ketinggalan zaman. Jauh sebelumnya, tahun 1990-an sudah beredar lagu gereja berirama lagu “Thola’al Badru.” Tahun 2000-an ada lagi Qasidah Kristiani yang mengawinkan lagu-lagu irama padang pasir dengan Kidung Jemaat kristiani. Judul lagu dalam qasidah kristiani ini pun sangat menggelitik, di antaranya: Isa Almasih Qudrotulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba’akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismirobbina, Nahmaduka Ya Allah, dll.

Jadi, Shalawat Global Cak Nun yang menjiplak Kidung Jemaat Kristen itu bukan hal baru, tapi mengekor kepada para pendeta dan penginjil sebelumnya. Ah, Cak Nun, nggombal kok cik nemene, rek? (suaraislam)

Shalom Aleichem yang dibuat oleh Caknun



Bandingkan dengan
Shalom Aleichem versi Yahudi




[+/-] Selengkapnya...

09 Oktober 2009

Melihat Keserakahan Indonesia dari India

Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan. Maklum, India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada penumpang.

Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.
Dalam sebuah ceramah akbar di Dubai-UAE beberapa tahun lalu, saya sempat bertanya kepada Dr. Zakir Naik, ulama besar asal India, ahli perbandingan agama yang tersohor namanya. Subyek pertanyaan saya adalah mengapa Islam boleh dikata tidak berhasil di India padahal India pernah di bawah sebuah kerajaan besar Islam, misalnya kekaisaran Mughal yang terkenal dengan Taj Mahal, atau Kerajaan Mysore yang terkenal pula dengan Isnata Maysore yang terindah didunia, bahkan melebihi Istana Birmingham. Dr. Zakir Naik menjawab, bahwa petinggi-petinggi kerajaan Islam di India waktu itu lebih memfokuskan kepada bangunan-bangunan fisik ketimbang dakwah Islam. Itulah salah satu faktor utama mengapa Islam malah menjadi minoritas di sana.

Ingin mengetahui lebih dekat jejak-jejak kebesaran Islam di India inilah yang manjadi salah satu motivasi saya untuk ingin melihat dari dekat apa dan bagaimana sebenarnya India. Disamping tentu saja banyak hal yang melatar-belakangi kunjungan saya, misalnya silaturahim dengan rekan-rekan kerja saya yang sudah mengundurkan diri, melihat institusi pendidikan serta mencari buku-buku India sesuai dengan profesi saya.

Banyak hikmah yang bisa depetik dari rangkaian perjalanan saya selama dua minggu di India, di empat negara bagian: Karnataka, Kerala, Delhi dan Uthar Pradesh. Jika dijabarkan satu persatu, terlalu panjang untuk diungkap di sini. Yang saya ingin soroti, dan semoga membawa hikmah bagi kita adalah, bahwa meskipun India kelihatannya miskin (padahal pertumbuhan ekonominya di atas Indonesia), nyatanya tidak semiskin yang kita sangka. Malah bumi kita yang dari kacamata saya, yang mestinya amat kaya raya ini, dihuni oleh orang-orang serta kepemimpinan bangsa yang serakah.

*****
Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan. Maklum, India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada penumpang.

Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.

Zahoor Ahmad, nama rekan saya, bersama keluarganya, begitu ramah menyambut kedatangan saya diteruskan dengan hari-hari berikutnya menjamu saya sebagai tamu. Mulai dari makanan, diantarkannya saya ke sejumlah tempat bersejarah serta wisata, menikmati suasana Lebaran di daerahnya, serta tentu saja mengunjungi sanak familinya di sejumlah kota.

*****
Kekaguman di hari pertama saya terhadap orang-orang India (setidaknya itu yang saya temui di rumah Zahoor) adalah, binatang-binatang sekelas Burung Merak, berterbangan di halaman rumah. Bahkan masuk ke ruang tamu serta dapur. Padahal burung-burung indah ini tidak dipelihara alias liar. Orang India sepertinya tidak terbiasa memiliki burung-burung dalam sangkar. Atau pemerintah memang tidak mengijinkan, wallahu a’lam!

Di kota-kota lain yang saya kunjungi, seperti Kannur, Calicut, Mangalore, Maysore, Agra, Bangalore hingga Ibu Kota Delhi, juga saya tidak melihat orang-orang yang memelihara binatang-binatang langka di rumahnya. Barangkali hal ini yang membuat binatang-binatang atau burung-burung ini akrab dengan manusia-manusia India. Anak-anaknya Zahoor bahkan dengan akrabnya memberikan makanan pada Burung Merak. Padahal rumah indahnya tidak terletak di tengah hutan belantara seperti Papua. Burung-burung seperti Jalak, Merpati, Camar hingga Tupai yang beragam warnanya, saya temui di banyak tempat berkeliaran yang membuat lingkungan kita merasa asri.

Saya sering mendengar atau membaca di Koran tentang keburukan politisi India. Tapi rasanya tidak sebanding dengan di negeri kita utamanya dalam soal pemeliharaan lingkungan hidup. Saya pernah melihat sungai kotor di Delhi. Tapi pemandangan yang sama tidak saya temukan di kota-kota lainnya. Di Kannur misalnya, sungai masih hijau dan jernih. Padahal sungai besar, lebarnya tidak kurang dari 200 meter. Bau selokan di kota-kota India, tidak seperti yang saya temui di Jakarta atau Surabaya.

Hal ini pertanda bahwa orang-orang India tidak serakah terhadap kekayaan alam atau ingin memilikinya. Hutan Papua milik kita, gunung emas di sana ‘dirampok’ dan digadaikan ke orang asing. Orang kita secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan juga memeliharan binatang atau burung-burung langka, sebagai bagian dari kebanggaan mereka. Saya tidak melihat, jangankan pasar burung, orang jualan sangkar saja sulit ditemui, meski mungkin saja ada di sana. Pabrik-pabrik di negeri kita banyak yang (Baca: dengan ‘seijin’ penguasa) seenaknya membuang limbah.

*****
Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah cara berpakaian orang India. Kita memang tahu, orang India suka mengenakan Sari, pakaian tradisional kaum Hawa yang melingkar di tubuh. Bagi kaum Hindu, memang tidak seluruh tubuh tertutup. Sebagian (maaf) perut, terbuka. Namun tidak semua orang Hindu mengadopsi cara mengenakan Sari seperti ini, terutama kaum mudanya. Apalagi Muslimah India. Tertutup. Laki-laki India juga bangga mengenakan Shalwar Gameez atau Kurta atau Dhoti dan lain-lain pakaian tradisional. Zahoor member saya Kurta yang saya kenakan pada saat Lebaran.

Perempuan India, betapapun dari kalangan modern di tengah kota, bangga dengan pakaian tradisional mereka. Sutera di India jauh lebih murah dibanding Indonesia. Kekayaan tekstil yang dimiliki India menjadikan salah satu modal mereka tidak tergoyah ingin meniru dengan pola berpakaian ala Barat. Sekalipun kita tahu di film-film India banyak yang berpakaian seronok. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak demikian yang saya temui. Apalagi pakaian mini seperti yang kita temui di negeri ini. Sepertinya tabu, jika anak-anak atau perempuan-perempuan mereka mengenakan rok mini atau celana ketat. Padahal dalam segi pendidikan dan pergaulan, keponakan-keponakan atau saudara Zahoor misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi setingkat dokter dan insinyur, mereka tidak tergiur dengan pola pakaian Barat yang mati-matian kita adop di negeri kita.

*****
Budaya konsumsi orang India juga tidak seperti yang kita lihat dalam film-film mereka. Di Karkala, di tengah pasar, saya sulit mendapatkan kertas Tissue. Setelah mengunjungi 10 toko, baru saya mendapatkannya. Itupun sudah usang dan kartun pembungkusnya pun robek. Orang sana tidak tergiur dengan budaya menggunakan tissue. Mereka lebih senang mengantongi sapu tangan. Lagi pula di rumah-rumah, apakah itu di bagian depan, samping atau belakang, umumnya tersedia pipa air untuk cuci tangan atau kaki. Di ruang makan juga tersedia wastafel atau tempat cuci tangan. Jadi mengapa harus menyediakan tissue? Barangkali begitulah pola pikir mereka.

Pasar India tidak seterbuka pasar kita memang. Barang-barang yang ada di sana mayoritas buatan dalam negeri. Sepanjang perjalanan saya di empat negara bagian ini, jarang sekali saya menemui kendaran Toyota. Sesekali saya memang jumpai Innova. Selebihnya, entahlah, orang India lebih bangga mengendarai Maruti, Tata serta Bajaj, hasil rakitan mereka sendiri yang tidak semewah Corolla atau BMW.

India begitu bangga dengan hasil karya mereka sendiri serta tidak silau dengan buatan orang lain, apakah itu Jerman, Amerika hingga Jepang. Mulai dari pakaian, makanan, bahan bangunan, hingga gaya hidup. India tidak serakah dengan gemerlap dari luar pagar negara di anak benua Asia bagian Selatan ini.

*****
Saya menyempatkan melihat buku-buku pelajaran milik dua anak rekan saya, bernama Zaman (kelas dua SMP) dan Zeeshan (kelas 2 SMA). Buku-buku mereka nampak sederhana sekali. Kualitas kertas nya tidak sebagus sebagian besar anak-anak sekolah kita. Saya menemui seorang Dekan di Universitas Manipal dengan mudah. Pula diterima oleh sekretarisnya penuh keramahan. Padahal saya hanyan ingin mmendapatkan sekedar informasi. Di perguruan tinggi kita, jangan harap diterima seorang dekan untuk urusan yang satu ini.

Saya mengunjungi sebuah perguruan tinggi terkenal, Manipal University di kota Manipal. Gedungnya tidak mentereng. Ruang-ruang kuliahnya tidak ber-AC, padahal jika musim panas tiba, suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat. Berarti panas sekali. Bangku-bangku kayu juga sudah tua untuk ukuran kita, yang bisa diduduki oleh 4 mahasiswa. Dosen-dosen mereka juga kelihatan sederhana. Hal ini bisa saya ketahui lewat pola pakaian mereka serta tentu saja kendaraannya.

Biaya sekolah hingga kuliah tergolong murah sekali. Mengantongi MBA dalam dua tahun hanya menelan biaya sekitar Rp 10 juta, sebuah jumlah yang amat sedikit di negeri kita untuk program pasca sarjana. Uang saku Zaman, ketika saya tanya, dia bilang hanya diberi Ibunya Rupees 150 (tidak lebih dari Rp 40 ribu) per bulan. Berarti hanya Rp 1000 per hari. Apa artinya Rp 1000 di negeri ini? Dia juga berangkat ke sekolah dengan sandal saja. Tapi kemampuan Bahasa Inggrisnya ‘ngewes’, selancar anak-anak kita berbicara Bahasa Jawa saja di kampung-kampung.

Buku-buku India murah sekali. Saya belanja tidak kurang dari 18 kg untuk buku-buku yang sulit mendapatkannya di Tanah Air. Buku-buku profesi yang saya dapatkan dari sana hanya tersedia kalau mau ke Amerika Serikat atau Inggris saja. Buku terbitan India terkesan tidak serakah mengambil keuntungan. Saya jadi heran, kebijakan apa yang diambil oleh generasi-generasinya Jawaharal Nehru ini, sehingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta buku yang teramat murah, tapi kualitas lulusannya bisa duduk di NASA-USA, terbang ke bulan dan jadi dosen-dosen di banyak universitas ternama di Negeri Paman Sam.

*****
Tempat rekreasi rata-rata murah sekali tiketnya. Padahal kelasnya tidak tanggung-tanggung. Taj Mahal, biaya masuknya hanya Rupees 20 atau hanya sekitar Rp 5 ribu. Coba kalau kita mau masuk Taman Mini atau Ancol? Bandingkan kelasnya dengan Taj Mahal!

Pemerintah India tidak rakus terhadap perolehan hasil pajak dari pariwisata sebagaimana di negeri kita. Travel package pula itungannya murah sekali. Di Delhi, mengunjungi 10 tempat wisata, hanya bayar tidak lebih dari Rp 100 ribu, naik bis Volvo ber-AC. Travel agent tidak terkesan serakah mengambil keuntungan banyak dari pelanggan. Padahal, kami diantar oleh guide-guide professional.

Sebagian tempat wisata malah tidak ditarik iuran (karcis) masuk sama sekali. Saya jadi heran, bagaimana dengan biaya pemeliharaan tempat-tempat ini? Padahal mereka punya tukang-tukang pembersih atau tukang sapu yang kebanyakan perempuan-perempuan bersari. Meski keamanan amat ketat di banyak tempat, tapi petugas keamanan India tersekan ramah terhadap pengunjung. Saya tidak menemui pengalaman yang kurang atau tidak mengenakkan sama sekali selama mengunjungi tempat-tempat wisata ini.

*****
India memang bukan negara kaya. Orang miskin banyak sekali. Banyak tempat juga kurang terpelihara. Jalan-jalan juga banyak yang berlubang. Bangunan di Delhi juga tidak semegah di Jakarta. Komunal konflik juga acapkali marak. India barangkali bukan sebuah percontohan. Maklum, jumlah penduduknya lebih dari 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Meski demikian, saya tidak melihat pengemis yang berkeliaran di sana-sini. Saya tidak melihat satu pengemis pun datang ke rumah Zahoor, Abdul Karim Mohammad Koya atau Abdul Azeem. Saya melihat ada pengemis di kota-kota. Tapi juga tidak ‘gentayangan’ seperti di negeri kita yang acapkali mengganggu pengguna jalan, masuk bis-bis, mengetuk jendela mobil hingga ngebel rumah kita yang bisa jadi lebih dari 5 kali sehari.

Tukang amen atau pemusik jalanan? Meski India amat terkenal dengan musik, lagu-lagu dan tarian-tariannya, saya tidak melihat tukang amen atau pemusik atau penyanyi jalanan ini di mana-mana. Tidak pula saya temui satu kali pun mareka masuk di dalam bis atau kereta api. Apalagi mereka yang naruh kotak amal di tengah jalan, tidak pernah saya jumpai.

Di negeri kita? Dalam perjalanan Malang-Surabaya, yang sepanjang 70 km, anda bisa menemui sebanyak angka itu pula yang namanya pemusik dan pengemis. Saya tidak membela pemusik atau pengemis atau penjaja makan di India. Tapi itulah kenyataannya. Mereka tidak serakah mencari pasar. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran meraka di tempat-tempat wisata atau rumah-rumah rekan yang kami kunjungi.

*****
Pembaca….
Saya tidak mau disebut sebagai orang Indonesia yang kufur akan nikmat Allah. Tapi bencana di Sumatera Barat, banjir si sejumlah daerah, mahalnya bahan-bahan pokok, sulitnya mencari minyak tanah dan gas, tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan layanan kesehatan (yang ini di India juga murah sekali), semuanya jadi membuat saya iri dengan apa yang terjadi di India, sebuah negara besar yang mampu melahirkan manusia-manusia besar seperti Mahatma Gandhi, Nehru, Rabindranath Tagore hingga India Gandhi.

Ada banyak PR yang harus digarap oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini. Jumlah masjid yang bertebaran di negeri ini (sulit mendapatkan hal yang sama di India), berjimbunnya jumlah majelis taklim serta kajian Agama Islam di televise-televisi, maraknya Da’i-da’i yang bersemangat sekali dalam berceramah memikat umat, sepertinya jauh dari cukup tanpa ada langkah konkrit: bagaimana mengelola sumber daya alam dan potensi manusia Indonesia yang konon sering meraih prestasi di berbagai momen olimpiade ini, agar menjadikan negeri ini lebih baik.

India memang bukan segalanya. Tapi melihat Indonesia dari jendela India, saya jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan negeri ini?

Oh ya, pada hari terakhir kunjungan saya di India, di Bandara Mangalore, saya tidak perlu membayar pajak sepeserpun. Sementara di Cengkareng, saya yang asli orang Indonesia, harus bayar Rp 150 ribu, itu belum termasuk biaya fiscal yang konon ‘hanya’ Rp 1 juta, jika anda harus ke luar negeri.
Ah, Indonesia!

Doha, 8 October 2009
Shardy2@hotmail.com


[+/-] Selengkapnya...

08 Oktober 2009

“Selaput Dara” Palsu Menghebohkan Mesir


Alat pembohong selaput dara yang didistribusikan perusahaan China itu menggegerkan kalangan parlemen Mesir
Jika kelak beredar, alat tipuan itu boleh jadi pemicu maraknya pergaulan bebas. Setidaknya itulah yang dikhawatirkan anggota parlemen Mesir.
Baru-baru ini, para anggota parlemen Mesir menyerukan larangan impor alat selaput dara buatan China. Seorang tokoh agama bahkan memfatwakan agar pengimpor atau pengguna alat itu dikucilkan.Alat bernama Artificial Virginity Hymen itu didistribusikan perusahaan China, Gigimo, dengan harga 30 dollar AS (sekitar Rp 300.000). Alat itu membantu wanita yang baru menikah untuk mengelabui suami bahwa dia masih perawan. Alat itu akan mengeluarkan cairan seperti darah jika dimasuki alat kelamin pria atau pecah.
Gigimo mengiklankan produknya di seluruh negara-negara Arab. Sebagian besar warga Timur Tengah menganggap keperawanan adalah hal penting yang harus dimiliki seorang istri. Berbeda dengan negara Barat di mana hubungan seks dan seks bebas telah dilakukan sebelum menikah.
Syeik Sayed Askar, anggota Ikhwanul Muslimin Mesir yang duduk dalam komite parlemen bidang keagamaan, mengatakan, alat itu akan menggoda para wanita Mesir untuk tidak menjaga keperawanannya.
“Akan memalukan partai berkuasa jika mengizinkan produk itu masuk di pasaran,” katanya. Tokoh agama terkemuka Mesir, Abdel Moati Bayoumi mengatakan, siapa pun yang mengimpor alat itu harus dihukum. “Produk ini mendorong hubungan seks terlarang. Islam melarang hubungan ini kecuali dalam pernikahan,” kata Bayoumi.
Produk itu juga menjadi pembicaraan heboh di dunia blog dan situs-situs berita Mesir. Sebagaimana diketahui, Mesir dikenal sebagai negeri paling liberal dibanding negara di Timur Tengah lain.
Sebelum ini, telah ada sebuah metode bedah merekonstruksi selaput dara dengan biaya sebesar 1000 pound. Meski banyak wanita mencarinya, banyak pula yang tak mampu membayarnya. [www.hidayatullah.com]



[+/-] Selengkapnya...

translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
 

Blog Archive

Followers

About Me

Foto Saya
prihanjoyo
cah ndeso, kampungan lagi, yang nimbrung di dunia maya
Lihat profil lengkapku